Tradisi Manganan Oleh Masyarakat Kedungmulyo Di Makam Keramat Ulama Desa

Suasana warga Kedungmulyo ketika mengikuti kegiatan manganan di makam keramat kediren
 

Tuban-Bulan Muharram menjadi bulan yang didalamnya terdapat kegiatan rutinan masyarakat Kedungmulyo kecamatan Bangilan kabupaten Tuban Jawa Timur untuk melestarikan tradisi manganan (makan bersama) yang sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan masyarakat sekitar tidak tahu pasti sejak kapan tradisi ini dimulai. 

“Sesepuh-sesepuh tua Kedungmulyo juga tidak tahu pasti mulai kapan acara ini ada, yang jelas dari zaman dulu acara manganan ini rutin di gelar setiap tahunya, bahkan sudah menjadi tradisi desa yang tidak bisa ditinggalkan,” ungkap Badrun selaku Kepala Desa setempat. 

Tradisi ini dilakukan disetiap akhir bulan muharram atau yang masyarakat sekitar menyebutnya dengan bahasa jawa yaitu bulan suro. Acara manganan ini dilaksanakan oleh masyarakat setempat selama dua hari yaitu pada malam hari usai salat isya’ dan di esok pagi harinya. 

Menurut Kyai Muhammad Salim yang merupakan tokoh agama setempat, tradisi manganan ini digelar untuk mengenang jasa dari salah satu sesepuh serta ulama desa yaitu mbah Abdul Qohar atau yang masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan mbah kediren dalam usahanya untuk menyebarkan agama islam di desa Kedungmulyo dan wilayah sekitarnya. “Kegiatan ini adalah dalam rangka mengenang perjuangan mbah Abdul Qohar dalam memberikan petunjuk ajaran islam kepada masyarakat desa kedungmulyo,” ungkap tokoh agama setempat tersebut. 

Disapa dengan nama mbah kediren karena menurut tutur cerita-cerita yang berkembang di masyarakat Kedungmulyo mbah Abdul Qohar ini beliau bukan merupakan warga asli setempat melainkan warga dari Kediri, Jawa timur yang hijrah ke Kedungmulyo untuk mensyiarkan ajaran Islam.

 Acara manganan ini digelar di pelataran makam mbah Abdul Qohar yang lokasinya berada di tengah persawahan atau yang biasanya masyarakat sekitar menyebutnya dengan makam keramat. Disebut dengan makam keramat karena masyarakat setempat percaya bahwa jika berdo’a di makam mbah Abdul Qohar tersebut akan di ijabah oleh Allah lebih cepat. 

 Kegiatan manganan ini dilakukan setelah melewati beberapa rangkaian acara lain yaitu pembacaan tawasul, khataman al-qur’an bersama, tahlil bersama dan ceramah agama serta do’a. Mengingat karena acara digelar untuk mengenang jasa ulama desa oleh karena itu didalamnya nilai-nilai agama islam tidak di tinggalkan. 

“Mbah Abdul Qohar ini beliau termasuk waliyullah, maka secara otomatis hubungannya dengan Allah sangatlah dekat, oleh karena itu bertawasulan kepada beliau adalah cara yang tepat dalam berdo’a agar masyarakat Kedungmulyo rejekinya lancar, dan dihindarkan dari bala’ dan bencana,” ucap Muhammad Salim.

Puncak dari acara manganan ini adalah makan bersama oleh masyarakat Kedungmulyo yang hadir di makam keramat tersebut. Dimana beberapa warga masyarakat Kedungmulyo yang datang membawa satu ember penuh yang berisi nasi disertai satu ekor ayam panggang dan bumbu-bumbu pelengkapnya atau yang disebut dengan (ingkung).  Kemudian ember berisi makanan tersebut akan di bagi-bagikan oleh pemiliknya dan dimakan bersama oleh warga masyarakat Kedungmulyo di lokasi makam keramat tersebut. 


Reporter : Asri Fatkhiya Prasasti (B91219088)

Komentar